Sel. Feb 18th, 2020

Sentrifugal Media

Menebar Makna, Menyemai Peradaban

Impor Daging di Indonesia

3 min read

Oleh : Sarah Enggar L

Daging sapi merupakan salah satu komoditas pangan yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia karena memiliki andil dalam pemenuhan gizi masyarakat yakni protein hewani. Permintaan akan protein hewani ini pun kian meningkat seiring dengan bertambahnya populasi penduduk Indonesia. Data Survey Ekonomi Nasional 2014 mencatat konsumsi daging sapi dari tahun 1993sampai 2014 cenderung meningkat.

Pada tahun 1993 tingkat konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia adalah sebesar 0,704 kg/kapita/tahun naik menjadi 2.36 kg/kapita/tahun pada tahun 2014. Bicara soal konsumsi daging sapi nasional, berarti kita bicara mengenai produksi daging sapi dalam negeri. Kementerian pertanian mencatat produksi daging sapi tahun 2016 sudah mencapai 2,5 juta ekor atau setara dengan 441.000 ton.

Bagaimana dengan kebutuhan konsumsi dalam negeri? Saya mendapati dua data yang berbeda. Pada acara Musyawarah Nasional Gabungan Pelaku Usaha Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) di Bandar Lampung, 17 Februari 2016, Kementerian Pertanian yang dalam hal ini diwakili oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan memaparkan bahwasanya Indonesia sudah swasembada daging. Menurut perhitungan Kementan, total kebutuhan daging sapi tahun 2016 adalah 490.000 ton. Ini berarti, hanya 48.000 ton saja kekurangan yang harus dipenuhi (FAO menyatakan bahwa swasembada sudah tercapai apabila impor kurang dari 10%). Sedangkan menurut Deputi Bidang Pangan dan pertanian Kementerian Koordinator Perekonomian, Indonesia belum mencapai swasembada daging sapi karena kebutuhan daging dalam negeri masih kurang 232.929 ton.

Lantas bagaimana cara pemerintah memenuhi kekurangan akan kebutuhan daging sapi dalam negeri?

Jalan satu-satunya adalah dengan melakukan kegiatan impor. Sebenarnya, impor bukan hanya solusi atau jalan tengah untuk memenuhi kebutuhan daging sapi saja. Impor juga biasa dilakukan oleh pemerintah untuk menstabilkan harga suatu komoditi yang sedang mengalami peningkatan agar tidak merugikan konsumen. Berdasarkan kekurangan kebutuhan akan daging sapi tadi, pemerintah tahun ini menetapkan kuota impor sebesar 232.929 ton.

Perbedaan data antara Kementan dan Kemenko Perekonomian mengenai jumlah kebutuhan akan daging sapi membuat saya agak bertanya-tanya. Pasalnya, perbedaan data ini menyebabkan kuota impor yang seharusnya bisa diminimalisisr menurut Kementan justru sangat jauh kelebihannya. Sebab, kuota impor ditetapkan 232.929 ton, sedangkan menurut Kementan sebenarnya kebutuhan impor hanya 48.000ton.

Perihal kuota impor yang meningkat dengan adanya perbedaan data tersebut sepertinya masyarakat tidak bisa melakukan apa-apa. Namun, masyarakat perlu mengetahui apakah benar kuota impor daging sapi yang cukup besar itu benar-benar didistribusikan untuk konsumen atau hanya untuk menguntungkan pengusaha-pengusaha besar. Saya mendapati sistematika pendistribusian daging sapi impor yang dilakukan oleh BULOG yang menyebutkan pendistribusian daging sapi impor dilakukan ke pasar pencatatan, pasar tradisional, asosiasi pedagang mie dan bakso, hotel, dan restoran dan catering (HOREKA). Lokasi distribusi tersebut meliputi wilayah DKI Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi dan Bandung. Disamping itu, Perum BULOG melalui BULOGMart juga akan mendistribusikan daging sapi melalui pasar murah, bazaar, pasar mingguan serta pameran produk pangan, yang dijual secara retail.

Adapun mekanisme penjualan daging sapi impor yang dilakukan Perum BULOG antara lain melalui penjualan di pasar-pasar strategis baik pasar tradisional maupun pasar modern, penyediaan Freezer oleh BULOGMart untuk didistribusikan ke Kelurahan, k operasi dan Komplek Perumahan, penjualan melalui Asosiasi dan Distributor, Penjualan Langsung dengan Menyewa Lapak di pasar strategis.

Jika dilihat dari mekanisme dan sistematika pendistribusian yang dilakukan oleh Perum BULOG,distribusi yang dilakukan seolah Jakarta sentris dan tidak produktif. Khususnya lebaran nanti, banyak masyarakat yang pulang ke kampung halaman yang tersebar di beberapa daerah Jawa dan luar Jawa. Namun, pendistribuian hanya dilakukan di Jakarta dan sekitarnya.

Selain Jakarta sentries, pendistribusian daging sapi impor juga mengundang beberapa masalah. Berdasarkan hasil analisis Inspirasi Dunia Sapi Indonesia, yang paling diuntungkan dari adanya penambahan kuota impor daging sapi ini justru bukanlah konsumen, melainkan importir sapi.  Importir sapi akan mendapatkan selisih harga beli dari Negara pengekspor terhadap harga jual di Indonesia. Sedangkan kondisi konsumen yang menjadi target kestabilan harga oleh Pemerintah, meskipun pasokan cukup ternyata harga daging sapi dipasaran wilayah Jakarta dan sekitarnya masih cukup tinggi.

*****

Sumber:

Pusat data dan sistem informasi pertanian Kementerian Pertanian RI 2015
INDEF
www.bulog.co.id
Inspirasi Dunia Sapi Indonesia
Liputan6.com
Sindonews.com
Poskotanews.com
Detikfinance.com

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.