Kam. Jan 16th, 2020

Sentrifugal Media

Menebar Makna, Menyemai Peradaban

Islam, Moral Teknologi dan Disrupsi Revolusi Industri 4.0

8 min read
(sumber foto : iiot-world.com)

Oleh: Kiagus Muhamad Iqbal*

Pada 14 Maret lalu, fisikawan kawakan, Stephen Hawking, menghembuskan nafas terakhirnya di rumahnya di Cambridge, London, Inggris. Meninggalnya Hawking meninggalkan duka dan berbagai pernyataan kontroversinya yang diingat masyarakat dunia. Salah satu statement kontroversialnya adalah mengenai perkembangan teknologi yang disebut-sebut sebagai Revolution of Industry 4.0. Ia mengatakan bahwa dengan terciptanya teknologi Artificial Intelegence (AI), manusia telah sampai pada akhir proses evolusinya. Manusia, dengan kalimat tersirat, berhenti dan menyusut menuju kurva menurun, devolusi.

Pernyataan Hawking tersebut perlu untuk menjadi bahan tadabbur dan tafakkur, mengapa Hawking hingga berkata seperti itu? Perkembangan teknologi sendiri telah menopang kehidupan Hawking semenjak ia kehilangan kemampuan berbicaranya sejak tahun 1980-an, dan melambungkan namanya dengan fasilitas-fasilitas itu. Mengapa justru teknologi, khususnya AI, justru menjadi tanda bunyi lonceng bagi berakhirnya proses evolusi manusia?

***

Tidak dapat disangsikan, perkembangan teknologi telah mempercepat perkembangan manusia selama selama 232 tahun terakhir yang bahkan terlalu cepat dibandingkan masa evolusi manusia dari ciri khas pemburu-pengumpul menuju pertanian selama kurang lebih dua ribu tahun lamanya. Dengan kata lain, perkembangan semenjak penemuan James Watt menciptakan mesin uap pada 1776, manusia telah mempercepat gerak evolusinya, bahkan melompat berkali lipat dibandingkan masa peralihan dari pertanian dan perdagangan pra-1776.

Perkembangan teknologi yang sudah mencapai tingkat keempat, telah menyediakan kemudahan dan kenyamanan bagi manusia, baik dari segi kehidupan paling pribadi hingga sosial-masyarakat yang pelik. Perkembangan teknologi telah mengubah wajah umat manusia sebagai makhluk adidaya dengan daya cipta dan pikirannya dalam memanfaatkan planet bumi dibanding makhluk lainnya. Teknologi telah menopang kepentingan manusia bagi kehidupan dan kesejahteraannya.

Akan tetapi, teknologi justru menimbulkan berbagai ekses negatif. Perubahan teknologi yang begitu cepat telah mengubah siklus kehidupan manusia disekitarnya baik dari segi ekonomi, sosial dan budaya. Manusia tidak terlepas dari lingkup hidup di sekitarnya. Perubahan yang begitu cepat telah mengubah wajah manusia di muka bumi. Akan tetapi, tidak setiap masyarakat dalam lingkup hidup tertentu di salah satu sudut bumi ini menerima perubahan yang begitu cepat tersebut.

Teknologi, dengan kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkannya, telah mengubah perilaku manusia. Bila kita berbincang dengan orang tua di kala mudanya, pasti akan mengatakan bahwa zaman dahulu apa-apa sangat begitu sulit, namun berbeda sekarang dengan segala kecanggihan teknologi semua menjadi serba mudah.

Dahulu, untuk berkomunikasi dengan orang-orang dekat yang tidak ada di tempat, meskipun berjarak beberapa puluh meter dari tempat tinggal, harus berjalan dahulu ke luar rumah menemui sangat orang terdekat. Apalagi terhadap orang yang sangat jauh. Hal ini berbeda dengan keadaan masa kini, di mana smartphone telah menjamur dan sudah menjadi kebutuhan masa kini, baik itu untuk kebutuhan komunikasi yang ‘primer’ hingga menjadi simbol prestise dan trendy masa kini.

Namun, hal itu berbeda bila kita melihat pada sudut pandang lain. Kemudahan dan kenyamanan telah membuat kehidupan manusia menjadi serba instan dan ‘apa-apa ingin mudah tercapai’. Aksebilitas adalah kunci utama bagi informasi. Setiap sentuhan dari smartphone menawarkan berjuta hal bagi kehidupan kita. Namun, apakah kemudahan itu memang harus serba segala hal?

Dalam diskusi saya dengan salah satu sahabat saya, ia meragukan kehidupan manusia di masa depan, layaknya Hawking yang meragukan berhentinya evolusi manusia. Namun, sahabat saya ini lebih mengkhawatirkan lagi terhadap nasib manusia di masa depan. “Kemajuan teknologi semakin canggih, tetapi manusia tetap berada di tempat. Apakah itu yang disebut kemajuan.” Baginya, teknologi justru melahirkan fase disrupsi, semakin lahirnya kekacauan dan gangguan yang tidak mestinya.

Akhir-akhir ini, media-media banyak menyuguhkan berita-berita membuat kita miris. Persebaran berita-berita bohong (hoax) sudah begitu merajalela. Kebebasan memberikan informasi di era demokrasi justru menjadi tercemar dengan penyebaran hoax tersebut. Agaknya benar lirik lagu Hijau dari Efek Rumah Kaca, ‘Dalam demokrasi, sampah pun meninggi, cari eksistensi…” Melimpahnya informasi justru bercampur dengan informasi sampah. Entah itu berfungsi sebagai sekadar mencari eksistensi atau bahkan berniat jahat. Akibatnya, instabilitas sosial-politik dan bias sosial yang dilahirkan berita hoax merembet menjadi perpecahan sosial yang sensitif.

Selain itu, konflik antar-pengendara kendaraan transportasi (konvensional dan online) juga memicu berbagai permasalahan sosial ekonomi. Berkembang pesatnya ojek-online dengan aplikasi-sekali-sentuh yang menawarkan kemudahan telah menggerus nasib transportasi konvensional. Perubahan yang sangat cepat tidak bisa tidak akan melahirkan konsekuensi yang mengagetkan. Ketidaksiapan akan begitu cepatnya perkembangan teknologi dalam ranah bisnis justru melahirkan ketimpangan yang lain. Proses ‘penghancuran kreatif’ berjalan. Hal ini sejalan dengan semakin menyusutnya bisnis ritel yang menggerus eksistensi mal-mal dan pasar tradisional akibat bergesernya ekonomi bisnis ritel ke bisnis belanja online yang lebih memudahkan (meski konsekuensi negatifnya adalah ketidaksesuaian barang maupun fraud).

Hal ini belum ditarik pada permasalahan perbenturan peradaban yang begitu kompleks dalam masyarakat yang begitu plural dan tingkat ‘peradabannya’ yang berbeda. Mark Zuckerberg (founder media sosial Facebook) pun mengakui bahwa berkembang besarnya teknologi kini justru semakin memecah masyarakat dalam perbedaan yang tajam, jauh dari ekspektasi dan cita-citanya dengan keterbukaan yang luas, dapat mempersatukan masyarakat yang berbeda.

***

Teknologi, sebagai hasil capaian kreativitas daya pikir manusia, telah menciptakan suatu barang yang telah mempermudah kehidupan manusia, dan tingkat kenyamanan hidup meningkat pesat seiring pesatnya kemajuan teknologi. Tetapi, mengapa justru teknologi justru melahirkan berbagai masalah yang lebih kompleks seperti yang Hawking dan Zuckerberg utarakan sebelumnya?

Teknologi tergantung dibalik pemakainya. The man behind the gun. Manusia adalah makhluk memiliki kesadaran dan tujuan, dan hal ini juga terkait dengan pertanyaan ‘untuk apa teknologi dibuat, dipakai dan diaplikasikan?’ Bila kita akrab dengan filsafat ilmu, maka perjalanan ilmu itu tidak akan berakhir pada hasil epistemologi semata, tapi berlanjut pada aksiologi. Aksiologi, mudahnya, selalu mempertanyakan ‘untuk apa dan apa tujuannya’. Dengan kata lain, nilai guna dan moralitas menjadi garis besar setelah hasil proses epistemologi telah didapatkan.

Apakah teknologi bebas nilai? Sekali lagi, alat akan bekerja sesuai dengan kehendak yang membuat dan memakai. Bila tujuannya salah, maka potensi alat teknologi yang diciptakan akan berpotensi merugikan. Jika untuk kebaikan, maka hal itu menjadi nilai kebaikan bagi banyak orang. Teknologi adalah hasil pengetahuan yang telah diproses menjadi ilmu lalu dijadikan sebagai benda yang nyata. Dan setiap pengetahuan dan hasilnya adalah kekuasaan. Dan kekuasaan tergantung dari apa yang berada di belakangnya.

Nilai-nilai agama yang dibawakan melalui wahyu lebih banyak menekankan pada aspek moralitas dan perbaikan baik niat maupun akhlak. Tentu kita mengingat satu hadits yang berkata ‘Aku (Muhammad) dilahirkan untuk menyempurnakan segi keutamaan dari perangai-perangai manusia.’ Akhlak dan perangai yang baik adalah produk akhir dari seorang beragama setelah menyadari apa artinya ia beribadah kepada Tuhan. Tuhan menciptakan manusia semata untuk beribadah kepadaNya. Namun, apa kiranya bila beribadah secara formal namun justru dalam setiap kegiatan kita sehari-hari justru melahirkan kemudharatan dan kekufuran terselubung dengan timbulnya kekacauan atau disrupsi?

Dalam setiap beribadah maupun memulai segala aktivitas, selalu diawali dengan lafazh Bismillahirrahmanirrahim. Penghayatan terhadap sifat ar-Rahman dan ar-Rahim selalu menjadi penekanan paling awal dan asasi bahwa di dalam segala ibadah dan aktivitas muamalah, kasih sayang dan nilai welas asih selalu untuk dipegang.

Dalam beberapa ayat, kebenaran dan kebatilan adalah jelas, namun diperlukan suatu pendidikan dan pelatihan untuk mengasah manusia yang lebih beradab, tidak hanya taat kepada ketentuan Tuhan, tetapi juga mengasah pikiran dan menyempurnakan hati yang terpancar selanjutnya melalui sikap, perilaku dan tindakan. Agama lahir tidak hanya menyempurnakan prinsip ketauhidan, tetapi juga untuk manusia menjadi lebih baik dari segi pikiran yang sehat, hati nurani dan sikap, perilaku dan tindakan yang sesuai dan elegan.

Bila kita merenungi kehidupan di masa kini, maka kita akan menemukan bahwa teknologi adalah sarana, bukan tujuan. Seringkali karena teknologi yang dipakai, maka seseorang akan merasa bahwa tujuannya telah tercapai. Kehidupannya sudah cukup dari itu. Selain dari itu hanyalah bonus semata. Padahal di balik ‘tujuan sementara’ itu semua masih ada tujuan-tujuan lain yang bahkan lebih penting tetapi disampingkan. Tuhan telah menyampaikan berbagai firmanNya untuk tidak menukar ayat-ayatNya dengan harga yang murah, menukar akhirat yang kekal dengan dunia yang fana dan relatif.

Teknologi seakan kini menjadi tujuan demi prestise, apa yang kita genggam seperti smartphone justru melahirkan personal manusia yang tidak smart. Padahal memakai teknologi juga tidak selesai pada tataran hasil kepuasan semata dan nilai ekonomi-prestise, tetapi lupa untuk mempertanyakan untuk apa dan berefek apa. Tatanan kehidupan dunia dalam kacamata menyeluruh telah mengubah wajah dunia yang terlihat sangat kacau –meskipun bila kita melihat hukum alam secara sadar lebih dalam, alam sedang mencari titik keseimbangannya dengan ‘dosis’ yang terlampau tinggi berupa banyak bencana dan berbagai fenomena lain.

Padahal, Qur’an selalu mengingatkan manusia untuk berbuat kebajikan baik kepada sesama manusia maupun kepada lingkungannya di banyak tempat dan memperingatkan akan kehancuran apabila manusia menyimpang dari tujuannya untuk beribadah kepada Tuhan. Setiap penyimpangan akan melahirkan kekacauan dan ketidakadilan sosial. Teknologi yang telah kita pakai dan menempel setiap hari di tangan kita secara tidak sadar bisa menjadi ‘sapi emas’ seperti penyimpangan umat Nabi Musa setelah ditinggal empat puluh hari dan membuat Nabi Musa murka. Hal ini tidak hanya karena representasi terhadap sulitnya mencari penyembelihan sapi berwarna kuning dengan syarat-syarat sangat sulit (bahkan mendekati mustahil akibat perilaku banyak bertanya kaumnya), telah membutakannya untuk membuat padanannya yang lebih ‘canggih’ dari buatan tangan mereka. Dari segi tujuan penyembelihan kurban sebagai bukti terhadap ketaatan dan ‘dekat’ kepada Tuhan (Qurban dan Qarib memiliki pengembangan kata yang sama), justru menyimpang menjadi penghambaan yang bersifat personalisasi ‘tuhan’ berprinsip materialistik.

Hal ini telah membutakan kaum Musa (kelak berkembang menjadi umat Yahudi) menjadi penyembahan semata terhadap personifikasi tuhan melalui berhala-berhala dan ‘agama’ sekedar ibadah formal tanpa adanya perwujudan keadilan sosial (dari segi tujuan dan caranya saja sudah salah, maka hasilnya pun akan salah!). Tentu, teknologi hampir bernasib sama seperti sang sapi emas. Penyebaran hoax dengan embel nama ‘muslim’ menjadi salah satu bukti justru perilaku yang menjadi ‘maghdub’ oleh Allah telah timbul lagi. Belum lagi menimbulkan ‘dhallin’ yang membuat masyarakat menjadi bingung terhadap mana yang benar dan mana yang salah. Bukankah kita dalam setiap salat dalam lima kali sehari di waktu yang tertentu setiap hari selalu membaca al-Fatihah?

Di sisi lain, teknologi yang tidak membaca situasi menimbulkan ketidakadilan sosial yang parah. Padahal agama telah mengingatkan untuk selalu memikirkan hari esok bahwa akan terjadi setiap perubahan yang tidak akan kita ketahui apakah menjadi lebih baik atau lebih buruk. ‘Biaya ketidaktahuan’ alias faktor X harus selalu menjadi perhatian seksama apakah teknologi yang dikembangkan tersebut hanya bermanfaat di suatu tempat namun justru menimbulkan kerugian bagi tempat yang lain. Keadilan menjadi fondasi bagi teknologi tepat guna.

***

Permasalahan teknologi yang dikhawatirkan umat manusia sebenarnya tidak terhadap teknologi itu sendiri, tetapi memasalahkan terhadap ‘siapa’ dan ‘untuk apa’ teknologi itu diciptakan dan dipakai. Bila kita berbicara lebih mendalam mengenai teknologi, maka di belakangnya akan selalu kepentingan yang membentuk relasi-kuasa (power relation). Dengan kata lain, memutuskan untuk apakah teknologi diciptakan dan dipakai tidak hanya pada tataran aksiologi semata, tetapi telah merasuk kepada ideologi politik dan agama.

Agama tidak hanya sebagai sumber hukum, tetapi sebagai sumber moral bagi kehidupan agama yang memberikan ruh dan aktualisasi misi agama dalam memanusiakan manusia dengan berbagai jalan (thariq dan salik) dalam ranah sosial-masyarakat. Teknologi tidak bisa tidak perlu untuk dikontrol terutama siapa dibalik pemakainya (juga aliran dananya, misalkan). Karena misi memperbaiki, meskipun terlihat baik, namun justru dibaliknya ternyata melahirkan berbagai efek yang justru lebih merusak dibandingkan kebaikannya (pada akhirnya kembali kepada siapa pemakainya). Seperti yang dikatakan Peter L. Berger, setiap kebijakan (khususnya mengenai pemakaian teknologi) selalu disertai biaya ketidaktahuan.

Sebagai penutup, sebagai bahan perenungan dan introspeksi diri, Fazlur Rahman (1919-1988) pernah mengatakan dalam karya terakhirnya, ‘Tema-Tema Pokok Al-Qur’an’ menanggapi perkembangan teknologi bayi tabung yang dikhawatirkan umat beragama sebagai menyaingi kemampuan penciptaan Tuhan.

“Banyak orang menilai bahwa dengan teknologi (bayi tabung) ini, manusia telah ‘bersaing dengan’ Tuhan dan mengintervensi perbuatan-Nya dan mengambil alih peran ketuhanannya. Namun, yang dikhawatirkan bukanlah bahwa manusia sedang mencoba mengubah alam atau menyerupai Tuhan, karena manusia memang dianjurkan oleh al-Qur’an untuk melakukan demikian (melalui pengembangan teknologi namun tetap mencontoh sifat-sifat Tuhan berdasarkan asmaul-husna, pen.).Sebaliknya, yang patut dikhawatirkan adalah bahwa manusia ‘bersaing dengan’ iblis dalam merusak alam dan melanggar moral.”

Penekanan akhirnya kembali kepada setiap manusia terhadap perkembangan teknologi yang sangat cepat, apakah menggunakan teknologi itu untuk memperbaiki mengubah umat manusia dan dunia lebih baik (sehingga ‘menyerupai’ Tuhan), atau justru merusak umat manusia dan dunia dan justru bersaing menjadi iblis?

Wallahu a’lam bish-shawwab

 

*Kader HMI Cabang Bogor Komisariat STEI Tazkia.

27Shares

1 thought on “Islam, Moral Teknologi dan Disrupsi Revolusi Industri 4.0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.