Sel. Feb 18th, 2020

Sentrifugal Media

Menebar Makna, Menyemai Peradaban

Catatan Akhir Ta’lim NDP

4 min read

Sumber: Dokumen Abdul Hamid al-Manshury

Sumber: Dokumen Abdul Hamid al-Manshury

Oleh: Abdul Hamid Al-Manshury*

Pada 5 Februari 2018 yang lalu, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) telah memasuki umur 71 tahun. Di umur yang sangat tua ini perlu kiranya warga Himpunan baik kader yang berproses didalamnya maupun alumni melakukan muhasabah (menilai dan menimbang diri) terhadap apa yang ada dalam konstitusinya bahwa HMI berfungsi sebagai organisasi kader dan berperan sebagai organisasi perjuangan.

Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) merupakan penjabaran dari peran HMI sebagai organisasi perjuangan. Pertanyaannya sejauh mana kader HMI memahami NDP? Atau mungkin hanya mendengarkan saat Basic Training/Latihan Kader (LK) 1 tanpa memahami dan lebih parah lagi membaca teks NDP pun tidak sama sekali. Padahal dalam pengantar PB HMI 1971 yang ditandatangani masing-masing oleh Nurcholish Madjid (sapaan akrabnya: Cak Nur) sebagai ketua umum dan Ridwan Saidi sebagai Sekretaris Jenderal disebutkan bahwa kepada setiap anggota HMI, terutama para akivisnya, diharapkan membaca NDP. Pemahaman terhadap nilai-nilai itu diharapkan dapat menafasi perjuangan kita dewasa ini dan seterusnya.

NDP merupakan salah satu dokumen organisasi yang diprediksi hanya berlaku 25 tahun, yang kenyataannya masih digunakan sampai hari ini. NDP pertama kali disahkan pada kongres IX HMI di Malang pada bulan Mei 1969, yang semula NDP tersebut Kertas Kerja PB HMI 1966-1969, berdasarkan hasil kongres tersebut Nurcholish Madjid, Endang Saifuddin Anshari dan Sakib Mahmud diminta untuk menyempurnakannya. Dalam perjalanan panjang sempat ada perubahan terhadap NDP Lama (Cak Nur) yaitu adanya NDP Baru (Arianto) dan NDP Rekonstruksi (Andito) tapi hanya NDP Baru-lah yang sempat disahkan di Kongres Ke XXV di Makassar pada tahun 2006. Meskipun begitu, pada kenyataannya penjabaran mengenai dasar perjuangan dikembalikan lagi ke NDP Lama (Cak Nur) setelah menuai kritik yang diperkuat dengan hasil Kongres Ke XXVII di Depok pada tahun 2010.

Sudah jelas, dasar dari perjuangan adalah “NDP yang merupakan perumusan tentang ajaran-ajaran pokok Agama Islam, yaitu nilai-nilai dasarnya, sebagaimana tercantum dalam Al-Kitab dan As-Sunnah”. Itulah definisi NDP dari penulis NDP itu sendiri, jadi NDP bukanlah seperti yang dilontarkan oleh Said Muniruddin NDP sebagai ideologi HMI dalam bukunya Bintang Arasy, NDP world view HMI yang diucapkan oleh pemrakarsa metode penyampaian NDP visi merah putih Kun Nurachadijat pada Ta’lim NDP HMI Cabang Bogor dan filsafat sosial HMI dalam buku saku kader HMI Cabang Yogyakarta.

Ada istilah menarik dari para NDPer (penceramah NDP) yaitu istilah mursyid. Secara bahasa mursyid adalah mereka yang bertanggu jawab memimpin dan membimbing murid, umumnya cabang-cabang tua mempunyai mursyid sendiri dalam hal menyampaikan NDP, bahkan sistem mursyid pun dijadikan sebagai ego, ketika pemahaman berbeda sedikit dianggap bukan muridnya lagi dan bahkan ada kejadian pengusiran NDPer yang satu terhadap NDPer yang lain pada saat forum training sedang berlangsung dengan alasan tidak mau kader-kader cabang tertentu diobok-obok pemahaman NDP-nya oleh NDPer di luar cabang tertentu tersebut.

Berkenaan dengan fenomena mursyid perlu rasanya mengutip secara panjang dari pengantar PB HMI 1971. Yang bunyinya sebagai berikut:

“Sistematika dalam menceramahkan NDP ini kepada para trainees (peserta-peserta latihan atau training) tergantung kepada tingkat pengetahuan peserta tersebut dan kepada metode pendekatan yang dipilih oleh penceramah sendiri. Oleh sebab itu dimintakan kreativitas setiap penceramah atau instruktur latihan-latihan untuk dapat membuat sendiri sistematika itu sesuai dengan keperluan. Dan mengingat perumusan NDP ini dibuat begitu rupa sehingga sejauh mungkin merupakan semata-mata pegangan “normatif”, maka kepada para instruktur atau penceramah juga diharapkan ketrampilannya untuk dapat mengemukakan contoh-contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, baik yang positif (yaitu bersesuaian dengan nilai yang dimaksud) ataupun yang negatif (yaitu yang bertentangan). Dengan begitu penghayatan norma-norma itu akan semakin mendalam.”

Sudah cukup jelas dan memang tidak perlu dijelaskan lagi bahwa tidak perlu ada lagi hal-hal seperti yang telah disebutkan diatas dalam hal penyampaian NDP.

Akhirnya Cak Nur dalam sambutan PB HMI 1971 mengajukan dua syarat utama suksesnya perjuangan ialah:

  1. Keteguhan iman atau keyakinan kepada dasar, yaitu idealisme kuat, yang berarti harus memahami dasar perjuangan itu.
  2. Ketepatan penelaahan kepada medan perjuangan guna dapat menetapkan langkah-langkah yang harus ditempuh, berupa program perjuangan atau kerja, yaitu ilmu yang luas.

Maka perumusan NDP ini adalah suatu usaha guna memenuhi syarat pertama tersebut. Sedangkan syarat kedua lebih bersifat dinamis, artinya disesuaikan dengan keadaan. Untuk itu dari kongres ke kongres harus memutuskan tentang Program Kerdja Nasional (PKN) yang tentunya tidak menyeleweng dari NDP itu sendiri. Maka diharapkan kepada setiap warga Himpunan memahami kedua dokumen itu sebaik-baiknya.

Sangat menarik syarat pertama tersebut. Fenomena yang terjadi saat ini adalah sangat sedikit kader Himpunan yang membaca apalagi memahami secara keseluruhan isi NDP, banyak kader yang hanya memahami NDP pas waktu LK 1 yang isi materinya hanya berhenti di BAB 1 Dasar-dasar Kepercayaan, suyukur-syukur sampai BAB 2 atau 3, tak jarang NDP dianggap suatu teks sakral, hanya orang-orang tertentu yang dapat menceramahkan dan akhirnya teks tersebut berserakan, berdebu dan berakhir di rak buku. Fenomena-fenomena itulah yang ingin dilawan oleh penulis dengan cara membuat Ta’lim NDP yang membahas BAB per BAB setiap pekan di Gedung Serbaguna Mahasiswa Islam (GSMI) Sekretariat HMI Cabang Bogor yang Alhamdulillah telah berakhir pada hari Ahad, 13 Mei 2018.

Harapannya program Ta’lim NDP ini menjadi program tahunan atau program wajib HMI Cabang Bogor. Karena Ta’lim NDP merupakan training informal HMI yang harus dilaksanakan sebagaimana tertuang dalam Pedoman Perkaderan HMI.

*Penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Bogor Periode 2017-2018

19Shares

1 thought on “Catatan Akhir Ta’lim NDP

  1. NDP baiknya tdk lagi disampaikan oleh orang2 tua… Biarkan anak muda yg tampil… Semua bisa jadi pemateri NDP SBGMN materi2 lainnya… Jangn lagi dianggap sakral… Yg tua mending berkarya saja di bidang yg lain… Tdk usah cari panggung di tempat anak2 muda… Dunia ini masih luas…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.