Kam. Jan 16th, 2020

Sentrifugal Media

Menebar Makna, Menyemai Peradaban

Teologi dan Filsafat Islam: Permata Tersembunyi Peradaban Islam

8 min read
Teologi dan Filsafat selalu berada pada kedudukan asing dan tak menguntungkan. Dalam tubuh umat Islam, Teolog dan Filsafat merupakan kotak pandora yang tak boleh terbuka. Padahal, di masa puncak Abbasiya, Teologi dan Filsafat menjadi permata peradaban Islam. Permata itu harus ditemukan kembali.

Penulis: Kiagus M. Iqbal*

Dalam beberapa kesempatan, penulis mengisi materi Sejarah Peradaban dan Kebudayaan Islam dalam Latihan Kader tingkat pertama HMI Cabang Bogor. Tentu, pertanyaan mengenai sejarah peradaban Islam tidak lepas dalam perkembangan empat aspek: Fikih, Teologi-Kalam, Filsafat dan Tasawuf.

Dalam setiap kesempatan penulis sesekali menyisipkan pertanyaan ‘apa pendapat teman-teman (peserta Calon Anggota) mendengar Filsafat?’ Jawaban yang umum dan mayoritas: ateis, bisa bikin sesat, berpikir aneh, dan memiliki pendapat yang ‘di luar kebiasaan’.

Jawaban-jawaban tersebut mencerminkan keadaan persepsi terhadap teologi dan filsafat saat ini: terasing dan disalahpahami. Di sisi lain, jawaban itu mencerminkan paradoks dari insan akademis di Indonesia umumnya, dan di Bogor khususnya, yang seharusnya (bolehlah kita pinggirkan teologi) akrab dengan filsafat sebagai jalan berpikir yang baik dan runut.

Tentu patut untuk bertanya, mengapa filsafat menjadi musuh abadi sedangkan dalam ruang akademis dipergunakan sebagai ilmu untuk berpikir secara ilmiah? Sebelum kita beranjak pada masalah tersebut, tentu Teologi menjadi pembuka dalam peradaban Islam. Setelah teologi Islam masuk, barulah filsafat mengikuti dan mewarnai peradaban Islam.

***

Peradaban Islam memiliki track record gemilang di masa lalu dalam empat aspek. Akan tetapi, dibandingkan fikih maupun tasawuf, teologi adalah aspek yang selalu ‘dihindari’ dibandingkan lainnya. Ada halnya filsafat, semenjak kejatuhan Dinasti Abbasiyah I, filsafat seakan tenggelam dan memiliki momok politik terkait Muktazilah.

Pada awalnya, teologi Islam (biasa dialihbahasakan Ushuluddin) merupakan ilmu untuk menganalisis (yang akhirnya menjadi bahan penilaian) landasan-landasan keagamaan pokok seperti masalah iman dan amal. Dalam masalah iman, maka pertanyaan tidak jauh dari dua hal: mengetahui Tuhan dan wajib mengetahui Tuhan. Sedangkan Amal berkaitan dengan dua hal pula, mengetahui baik dan buruk amal dan wajib mengetahuinya.

Perkembangan hingga lahirnya pertanyaan-pertanyaan tidak semata-mata lahir dalam ruang kosong. Bertanya secara teologis, dalam aspek iman, bertolok dari pertanyaan apakah seorang melakukan dosa besar tetap beriman atau telah kafir. Di sisi lain, mengenai amal manusia, apakah manusia dapat berkehendak sesuai dengan kebebasan mereka atau telah ditentukan Tuhan sehingga hanya sebatas bagai ‘wayang-wayangNya’?

Pertanyaan awal tersebut lahir dari kegelisahan terhadap rezim yang berkembang dalam dinasti Umayyah di mana perilaku dan etika pemerintahannya tidak lagi mencerminkan pemerintahan layaknya Khulafa ar-Rasyidin di masa lalu. Selain itu, Hasan al-Basri, selaku ulama yang mencetuskan berbagai keilmuan Islam di masa selanjutnya, telah mempertanyakan keabsahan rezim yang mengklaim terhadap ketentuan Tuhan terhadap rezim dalam Lauh al-Mahfuzh.

Tidak bisa dipungkiri, pertanyaan-pertanyaan teologis semacam itu memang berangkat dari kenyataan sosial-politik pada masa itu. Dengan kata lain, bertanya secara teologis sama dengan menggetarkan sendi pemerintahan dengan berbagai doktrinnya terhadap ketentuan Tuhan yang serba deterministik tanpa ruang kebebasan manusia.

Perbedaan-perbedaan Jawaba tersebut tentunya telah melahirkan berbagai aliran-aliran memiliki corak-corak pemikirannya masing-masing. Dalam satu sudut, Jabbariyah sebagai doktrin teologi determinisme ekstrem menggambarkan manusia tidak bisa terhindar dari ketentuan Tuhan dan ia tidak memiliki kebebasan sama sekali dari itu, ibarat wayang yang digerakkan Tuhan sekehendakNya.

Sedangkan pada sudut lain, Qadariyah memiliki pandangan doktrin mengenai kebebasan manusia secara mutlak. Tindakan manusia yang ia pilih, tidak lepas dari peran akal yang dapat mengetahui perbedaan mana baik dan buruk. Dan manusia bertanggung jawab atas kehendaknya sendiri dalam kebebasannya.

Jabbariyah mungkin saja telah ‘punah’ meski masih terasa secara tidak sadar. Namun, paham Qadariyah, memiliki eksistensi yang panjang, dan digunakan para pemikir Muktazilah. Muktazilah inilah yang yang seringkali identik dengan hubungan dekatnya dengan paham Qadariyah, terutama dengan akal dan kebebasan manusia. Di sisi lain, kontroversi di sekitarnya lebih menyengat meski pandangannya berguna di masa sekarang.

Andai saja Muktazilah tidak ditarik pada kebijakan politik otoriter yang memaksa dan memakan korban (seperti Imam Ahmad Ibnu Hanbal), agaknya eksistensi perdebatan Muktazilah dengan aliran lainnya akan berjalan lebih ajeg. Sayangnya, kebijakan inkuisisi al-Ma’mun terhadap kemakhlukan Tuhan tidak semestinya dipaksakan menjadi suatu alat pemaksaan Negara melalui peresmian ideologi ‘Negara’. Memaksakan kebebasan, meskipun bersifat baik, pada akhirnya akan menjadi racun bagi dirinya sendiri.

Setelah pergantian dua-tiga pemerintahan Khalifah pasca-Ma’mun, Muktazilah dengan kredonya akal manusia dan kebebasan pada akhirnya dicabut dari ideologi kekhalifahan. Sontak, pengaruh Muktazilah perlahan mulai berada di titik nadir. Perdebatannya dengan kalangan-kalangan pemegang teguh tradisi Islam (Ahlu as-Sunnah) telah berada pada babak akhir. Dengan lahirnya paham Asy’ariyah dan Maturidiyah sebagai jawaban pasca-Muktazilah, babak akhir semakin dekat pada terbentuknya ortodoksi Islam yang puncak (seiring dengan itu semakin menurun).

***

Teologi membicarakan aspek ketuhanan dan yang berkaitan dengannya, baik masalah keimanan, wahyu, maupun amal baik dan buruk. Akan tetapi, Ilmu Teologi Islam tidak bisa lepas dari penunjangnya, filsafat. Filsafat, dalam lintasan sejarahnya, telah berperan besar dalam membangun sistematika berpikir kaum muslim secara ilmiah sehingga patut dijadikan ‘generasi pionir’ pengembangan teknologi.

Filsafat merupakan perangkat ilmu yang mempelajari segala hal sejauh ia amati. Filsafat, dengan kata lain, terkait erat dengan hal-hal yang bersifat wujud nyata. Akan tetapi, filsafat pada dasarnya mengarah pada dua aspek: fisika dan metafisika. Metafisika dominan terkait dengan hal-hal di luar fenomena dan benda fisik, seperti ketuhanan. Metafisika inilah yang beriris dengan Teologi.

Dalam pemahaman peradaban Islam, kecenderungan memahami wujud cenderung bersifat holistik. Artinya, penjelasan mengenai sesuatu yang ilmiah tidak lepas dari ‘refleksi’ terhadap ayat-ayat Tuhan secara komprehensif (kauliyah dan kauniyah).

Hal ini berbeda dengan di filsafat Barat yang cenderung membenturkan Tuhan (dewa-dewa Yunani awalnya) sebagai lawan terhadap nasib manusia yang penuh ketragisan dan penderitaan. Sehingga, teologi penderitaan dan penebusan dosa mewarnai pemikiran-pemikiran filsafat dan teologi Barat.

Kembali pada filsafat Islam, hasil refleksi ayat-ayat Tuhan tersebut ternyata memang tidak lepas dari perkembangan teologi, khususnya mengenai akal manusia dan kebebasan perbuatan manusia. Dalam pandangan Qadariyah, kebebasan manusia untuk bertindak sesuai dengan keinginan hidup yang diidamkannya adalah suatu keniscayaan. Akal dapat memahami baik dirinya maupun alam sekitarnya. Sehingga, manusia dapat mengatasi segala permasalahannya dan menjadi makhluk problem solver.

Akan tetapi, kecenderungan tersebut lebih banyak diwarnai oleh perdebatan-perdebatan teoretis mengenai kewenangan akal dan wahyu. Akal dan wahyu adalah dua hal yang tidak bisa dilepaskan. Wahyu turun kepada manusia sebagai ‘makhluk berakal’ yang dengan akalnya, maka ia mampu memahami Tuhan penciptanya.

Bila wahyu tak ada, meski Muktazilah mengklaim manusia bisa membedakan baik dan buruk dan kewajiban manusia tanpa wahyu, pada akhirnya baik dan buruk menurut akal memerlukan verifikasi dan konfirmasi dari Otoritas Tertinggi yang Maha Berwenang, yaitu Tuhan.

Meskipun dalam perjalanannya manusia dapat membedakan baik dan buruk dan merumuskan kewajiban, pada akhirnya rumusan tersebut akan menjadi tradisionalisme yang beku dan semakin menyimpang seiring perjalanan waktu. Agaknya, pandangan hukum adat memiliki benihnya di sini.

Terlepas dari itu semua, perdebatan teoretis mengundang pergesakan (dan bentrok) antar aspek keilmuan. Fikih merupakan aspek yang sering terjadi bentrok tersebut. Bagi golongan fikih, perdebatan-perdebatan teoretis semacam itu telah membuat umat di dalam kemelut kebingungan. Belum lagi ditambah perdebatan teologis bercampur paksaan politik, filsafat telah berada pada kedudukan yang tidak menguntungkan.

Meski filsafat telah mencapai puncaknya pada masa Abbasiyah (khususnya menanjak tajam sejak masa Harun al-Rasyid), filsafat pada akhirnya berada suasana yang tidak semestinya ia peroleh: titik nadir filsafat telah berada pada dasarnya. Terutama sintesa ilmu (filsafat, teologi, tasawuf) yang menjadi bahan perlawanan Imam Ghazali terhadap golongan filsuf (diawali dengan kitab Tahafut al-Falasifah), kedudukan filsafat hanya sebagai pendukung status quo dan tercerabut dari sifat filsafat ‘mempertanyakan segala hal’.

***

Tentu sangat tidak adil mengatakan Imam Ghazali pada sisi negatif sebagai ‘pengebiri’ pemikiran Islam seiring puncak pemikiran Islam yang berujung pada penjulukan beliau sebagai Hujjatul Islam. Tulisan-tulisan beliau yang terhimpun dalam berjilid-jili kitab berjudul Ihya ‘Ulumuddin merupakan karya yang tidak bisa diragukan merupakan sintesa antara pemikiran Neoplatonisme, teologi Asy’ariyah dan Tasawuf.

Sintesa pemikiran menggambarkan pula titik akhir dari perjalanan Imam Ghazali bahwa rasa keberagamaan tidak terjawab dalam olah pikir semata dengan perdebatan dialektis yang tak berujung. Permainan kata dan mendebat setiap definisi kalimat tidak berujung pada kepastian iman. Kepastian iman (mungkin mencari Nafsu al-Muthmainnah) yang dicarinya jatuh pada tasawuf.

Bukan berarti tasawuf yang utama. Tetapi filsafat pada akhirnya merupakan jalan panjang sehingga akan menemukan tujuan akhir yang melampaui filsafat yang melihat segala hal dalam perwujudan. Segala yang wujud belum tentu memuaskan. Tasawuf sebagai kepastian terhadap hati menuju iman adalah titian akhir dari seorang Hujjatul Islam.

Akan tetapi, mendebat Imam Ghazali adalah bukan kemustahilan. Ibnu Rusyd, melalui Tahafut at-Tahafut, pada akhirnya mendebat Imam Ghazali bahwa ia sendiri melawan filsafat dengan filsafat. Setiap orang tidak akan terlepas dari filsafat, karena itu berkaitan dengan cara berpikir dan pandangan dunia (worldview). Tahafut al-Falasifah, pada akhirnya, menghancurkan filsafat dengan cara berfilsafat pula.

Di sisi lain, Ibnu Rusyd mengkritik gagasan-gagasan Imam Ghazali yang terlanjur menyebar di masyarakat merupakan pemikiran-pemikiran yang rawan untuk disalahpahami. Terutama mengenai tasawuf, kunci-kunci yang pada dasarnya bersifat rumit dan sulit dipaham masyarakat maka ia bersifat ilmu khawwash dan ‘haram’ berada di ruang publik. Apalagi berkenaan dengan masalah ketuhanan dan prinsip pokok ketauhidan.

Teologi dan filsafat merupakan ilmu-ilmu yang memiliki peran pendobrak dalam memandang baik peran dan kedudukan akal dan wahyu, kebebasan memilih dan berbuat manusia, hingga kreatifitas manusia dalam berpikir. Meski begitu, teologi dan filsafat tidak untuk dikonsumsi bagi masyarakat awam.

Agaknya perlu untuk memahami tulisan singkat Ibnu Rusyd dalam Fashl al-Maqal fi ma Bayna’l-Hikmah wa asy-Syari’ah mengenai tingkatan metode penyampaian ilmu. Mendamaikan agama dan filsafat adalah tugas yang berat dan penuh ketelitian dan kehati-hatian.

Masyarakat awam, yang lebih mengutamakan kepraktisan dan nilai guna dalam kehidupan sehari-hari (sekaligus memelihara imannya), metode retorika adalah yang paling cocok menyentuh mereka. Tidak perlu teori-teori ribet dan sulit, mereka hanya membutuhkan bimbingan yang jelas tanpa penjelasan muluk.

Berbeda dengan orang yang mungkin memiliki bakat dan mengetahui beberapa penjelasan filsafat dan perdebatan di sekitarnya, metode dialektika merupakan metode khusus bagi mereka yang memiliki pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai filsafat.

Tetapi, metode yang disampaikan tersebut adalah bersifat khusus dan tidak boleh tercampur dengan orang-orang berpreferensi retorika, karena rawan kesalahpahaman dan akhirnya ‘menebar dosis berlebih yang membahayakan jiwa orang beriman’. Metode ini tentu berdasarkan perdebatan dan dialog untuk menggali dan membedah setiap kelebihan dan kekeliruan suatu pemikiran. Dan ini bersifat akademis yang bersifat general.

Terakhir, metode demonstratif membutuhkan suatu pengandaian atau metode ta’wil. Dalam perkembangan fiqh maupun ilmu tafsir, permasalaan ta’wil ini memiliki polemik yang tidak sedikit orang membicarakan dan memperdebatkannya. Bagi seorang Ibnu Rusyd, metode ta’wil tidak boleh digunakan terhadap nash-nash Syari’at yang telah memiliki makna yang jelas (ayat muhkam).

Sedangkan ayat-ayat perumpaaan (Mutasyabihat), hanya dapat ditakwil oleh orang tertentu yang memiliki kedalaman pemahaman Syari’at dan hikmah yang tidak bisa ditawar-tawar. Dan meskipun ia memahaminya, toh dia tidak akan langsung menakwilkannya karena baik kekhawatiran maupun menjaga ruh syariat dan kepastian agar tak menyimpang dari nash-nash menyeluruh.

Takwil terhadap nash-nash yang bersifat umum dan ada di dalamnya perumpamaan dan pengandaian, maka di dalamnya mengandung ‘ibrah untuk menggalinya lebih mendalam untuk dipahami. Lafazh yang bersifat haqiqi dicoba untuk dipalingkan pada makna yang bersifat majazi. Inilah yang membuat Ibnu Rusyd berhati-hati terhadap metode takwil tersebut dan berada pada metode paling akhir dalam tiga metode secara bertahap: pemisahan, penyatuan dan takwil.

Wajarlah, bila metode demonstratif melalui teknik ta’wil ini, Ibnu Rusyd mewanti-wanti agar tidak sembarang dipraktekkan apalagi disampaikan orang awam. Bahkan, metode tersebut berada pada tindakan khawwashul khawwash.

Maka kita memperoleh keterangan yang menyimpulkan jawaban akhir, mengapa mahasiswa zaman now memiliki jawaban yang tidak jauh mengidentikkan filsafat (dan teologi) sebagai ilmu yang ‘sensitif’ untuk dijamah: dua ilmu tersebut merupakan ilmu-ilmu khusus yang tidak boleh disampaikan secara gegabah terhadap khalayak umum. Wajar bila Ibnu Rusyd memberikan peringatan keras bahwa dosis penyampaian kebenaran harus sesuai dan terukur. Bila tidak, justru akan membahayak jiwa keimanan masyarakat.

Yang dituju filsafat dan teologi sebenarnya selaras dengan tujuan agama, yaitu membentuk iman yang benar dan mendorong manusia beramal baik. Sayangnya, perdebatan teoretis di dalam kedua ilmu tersebut tidak untuk konsumsi umum. Inilah yang patut untuk dicamkan.

*Direktur Bidang Pelatihan dan Pendidikan LAPMI HMI Cabang Bogor (2017-2018)

58Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.