Ming. Jan 12th, 2020

Sentrifugal Media

Menebar Makna, Menyemai Peradaban

Media Sosial dan Hoax: Jangan Remehkan Share Kiriman Online

2 min read
Penyebaran hoaks di tahun-tahun politik semakin meningkat. Bahkan hingga Agustus 2018-Februari 2019 terjaring 771 informasi telah terverifikasi hoaks. Dalam Diskusi Colloquy, Manggala Putra mengajak agar dalam ber-medsos tidak sekadar pencet share semata, tapi juga bertabayyun.

Bogor – Sosial media yang merupakan platform digital dengan pengguna terbanyak di seluruh dunia, tidak sekadar posting gaya hidup kekian dari setiap penggunanya. Sebab, sosial media saat ini juga marak terjadi penyebaran hoaks maupun konten-konten ujaran kebencian yang dapat diakses dengan mudah.

Demikian disampaikan Manggala Putra, Socmed Research and Analyst G! Communication, dalam sesi diskusi Colloquy di Kedai Kopi Pemula, IPB Dramaga, Bogor, Jumat (8/3/2019).

Menurut Manggala, untuk menghindari konten hoaks yang tersebar, sebaiknya harus mengetahui perkembangan sosmed untuk mengindikasikan, menangkal, hingga mengetahui ciri-ciri hoaks itu sendiri.

“Perlu sama-sama kita sadari perkembangan hoaks dan bahaya dampaknya, terutama di tahun politik ini,” Kata Manggala saat berdialog di depan audiens mahasiswa IPB.

Manggala yang juga alumnus IPB ini mengajak pengguna sosial media khususnya generasi milenial agar tidak masuk dalam lingkaran pelaku penyebaran hoaks.

“Agar kita sama-sama tidak tenggelam dalam lingkaran hoaks yang sadar atau tidak sadar kita turut aktif menyebarkan hoaks,” ucap Manggala

Direktur Bidang Penelitian dan Penalaran BAKORNAS LAPMI PB HMI ini juga memaparkan sejumlah data terkait penyebaran hoaks. Tercatat, selama Juli – Agustus 2018 ada 25 hoaks di Indonesia. Namun, sejak Agustus 2018 – Februari 2019 ada 771 hoaks terverifikasi.

Data ini menunjukkan peringatan bagi kita untuk terus berhati hati menerima dan menyebarkan informasi. Salah satu faktor besar hoaks begitu mudah dan masif tersebar karena masih banyaknya masyarakat yg tidak bisa membedakan informasi hoaks.

Manggala memaparkan, tercatat sebanyak 44% pengguna internet tidak bisa membedakan mana yang hoaks dan mana yang bukan. Kondisi seperti ini, tentu sang pembuat hoaks yang diuntungkan, karena melalui media sosial pemilik kepentingan pribadi bisa melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuannya.

“Untuk itu, saya mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih aktif ber-tabayyun dalam menyaring informasi dan tidak tergesa-gesa untuk menyebarkannya. Adapun tahapan yang bisa dilakukan yakni dengan menimbang berbagai aspek, diantaranya kebenaran, manfaat, dan tujuan suatu informasi,” tambahnya. [kmi]

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.