Kam. Feb 20th, 2020

Sentrifugal Media

Menebar Makna, Menyemai Peradaban

Tasawuf: Dari Tazkiyatun Nafsi ke Wahdatul Wujud

9 min read
Berbicara Tasawuf memang tidak habisnya. Pada awalnya, ia menjadi sarana untuk mensucikan hati (tazkiyatun nafsi) agar senantiasa dekat diri (taqarrub) kepada Allah. Belakangan, tasawuf menjadi sering disalahpahami, bahkan terkadang menjadi ancaman politik.

sumber: bincangsyariah.com

Penulis: Kiagus M. Iqbal*

Dalam satu diskusi yang diadakan oleh HMI Cabang Bogor, seorang penanya menanyakan satu persoalan sederhana, namun menarik untuk diperhatikan. “Apakah kita dapat ber-tasawuf namun dengan tetap menjalankan Syari’ah dengan benar?”

Kurang lebih, seperti itulah pertanyaan yang terlempar dari sang penanya. Gambaran dari sang penanya sebenarnya adalah lumrah bagi banyak sebagian masyarakat umum karena selama ini, tasawuf, atau dalam kajian keislaman disebut sufisme, penuh dengan persepsi kabur, seringkali menghakimi.

Hal tersebut juga tidak jauh dengan nasib penghakiman terhadap filsafat dan teologi telah dibahas pada bagian lalu. Perlu untuk kita ketahui, Indonesia telah akrab dengan tasawuf sejak masuknya Islam ke Nusantara. Bahkan, kerajaan-kerajaan Islam awal di Nusantara lebih banyak muncul karena dakwah-dakwah tasawuf.

Tentu, menjadi pertanyaan, mengapa kini masyarakat umum begitu asing terhadap tasawuf itu sendiri? Apa yang membuat tasawuf pada akhirnya muncul dan bahkan menjadi ‘senjata pamungkas’ ala tombak Kalimosodo menyebarkan Islam begitu masif di Nusantara?

***

Islam berkembang pada awalnya sebagai ajaran yang disampaikan Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya agar beribadah kepadaNya, baik ibadah mahdhah dengan niat dan mengabdi lurus hanya  kepadaNya (Tawhid) dan beramal saleh yang pada akhirnya akan kembali kepada umat manusia apa yang telah dikerjakannya.

Segala praktek dan pengamalan itu pada awalnya terpusat dari diri Rasulullah yang menjadi pedoman bagaimana umat muslim berbuat dan bertindak. Dengan kata lain, perilaku dan perkataan Rasulullah menjadi arah dan pedoman dalam mempelajari, memahami dan mengamalkan seperti apa ajaran Islam itu. Akan tetapi, selepas Rasulullah wafat, pedoman itu semakin melembaga menjadi apa yang disebut praktek Sunnah, kelak diformalkan tertulis menjadi hadis.

Pengamalan ajaran Islam pada dasarnya amatlah sederhana, beribadah kepadaNya dengan niat yang bersih, lurus dan tulus; lalu mengejawantahkannya dalam praktek sosial masyarakat dan alam sekitarnya sebagai bentuk amal saleh. Al-Qur’an sebagai wahyu yang disampaikan Rasulullah, bertujuan untuk memandu manusia menuju kepadaNya, dan pada akhirnya membentuk kehidupan sesuai dengan kerangka besar yang Allah telah berikan di dalam wahyu tersebut.

Akan tetapi, ada beberapa orang pada masa nabi yang memang mengamalkan ibadah untuk membersihkan diri dan hatinya untuk menjauhi kesenangan duniawi. Mereka seringkali tinggal di serambi masjid di Madinah untuk terus beribadah di sana dan dekat kepada Rasulullah (terkadang mereka pun dibantu Rasulullah dalam hal kebutuhan dasar jasadi seperti makan, minum, dan tentu, tempat tinggal maupun ruhani-keagamaan).

Mereka seringkali disebut sebagai zuhud, ummul qura. Ditandai dengan sikap sederhana dengan hanya memakai pakaian yang terbuat dari bulu domba yang kasar, bernama shuf. Kelak, konon katanya, pemakaian kata sufi (shufi) berasal dari kebiasaan berpakaian para zuhud Madinah. Akan tetapi, seringkali praktek ber-zuhud tersebut agak berlebihan sehingga Rasulullah menasihatkan untuk tidak berlebihan dalam beribadah dan memperhatikan kebutuhan ‘badan dasar’ mereka seperti makan, minum bahkan menikah.

Kekuatan pensucian diri dari segala kesenangan duniawi ini tentunya tidak hanya berkonsekuensi pada diri seorang zuhud semata. Tetapi, setelah Rasulullah wafat, para zuhud ini menjadi kekuatan besar dalam keseimbangan kekuasaan yang seringkali terbentur pada ketidakadilan dan indikasi penyimpangan.

Gerakan-gerakan tersebut melahirkan apa yang disebut gerakan oposisi-moral. Abu Dzar al-Ghifari adalah contoh dari gerakan oposisi tersebut kala ia menghadap kepada ‘Utsman bin Affan mengenai ketidakberesan pemerintahannya dan menyimpang dari praktek Rasulullah maupun dua khalifah sebelumnya (Abu Bakar dan ‘Umar). Kelak, Abu Dzar wafat dalam perjalanan pengasingan di gurun pasca-‘perlawanan’-nya dengan ‘Utsman.

Gerakan oposisi moral ini meletakkan dasar bahwa segala tindak politik perlu (bahkan harus) menyelaraskan kembali pada amanat al-Qur’an dan Sunnah agar umat tidak menyimpang. Mereka tidak hanya melihat pada tindak tanduk semata, tetapi kebersihan niat seseorang, bahkan mempertanyakan komitmen mereka sebagai seorang muslim dan apakah bertindak sebagai muhsinin.

Segala penyimpangan (terutama dalam pemerintahan politik) akan berakibat tidak baik bagi umat dan membimbing mereka menuju pengeroposan moral dan tindakan sosial-sistemik yang menyimpang. Dengan kata lain, praktek tashawwuf (tasawuf) lebih mendasarkan pada pensucian diri (tazkiyatunnafsi), dengan bimbingan al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Tanpa Tazkiyatun Nafsi, gerakan oposisi moral pada akhirnya akan keropos di dalamnya.

Hal inilah yang dilanjutkan kepada generasi kedua gerakan oposisi moral dipimpin oleh Hasan al-Bashri. Hasan al-Bashri merupakan tabi’in yang disegani oleh pemimpin-pemimpin ‘Umayyah karena karismanya sebagai seorang ulama zuhud yang banyak menarik minat banyak orang untuk belajar kepadanya. Ketenarannya telah membentuk semacam karisma dalam dirinya menarik massa yang begitu banyak.

Gagasan ‘kebebasan manusia’ yang merupakan cikal bakal perdebatan teologis berawal dari sikap oposisi moral Hasan al-Bashri terhadap tindakan penguasa yang terlampau membekukan umat dengan ‘nyanyian ninabobo’ teologi fatalistik. Penguasa mengkhawatirkan bahwa gagasan kebebasan manusia ini akan menggoyang rezim yang telah mapan.

***

Dari sini, terlihat bahwa perkembangan Tasawuf pada dasarnya adalah sangat bersifat positif, menyentuh pembersihan niat atau komitmen seorang muslim untuk umatnya agar tidak menyimpang dari ajaran Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi, dalam beberapa tahap, praktek zuhud tersebut semakin terinstitusionalisasi menjadi suatu ilmu yang baku yang juga dinamakan Tasawuf.

Tasawuf sendiri lahir pada masa belakangan, dan nama zuhud justru lebih banyak disebutkan. Fokus tasawuf sendiri adalah menyentuh pada niat atau komitmen, artinya ia menyentuh pada pembersihan atau pensucian hati seseorang dari segala noda-noda berpotensi menyimpangkan dan memperkeruh kejernihan mata hatinya.

Niat tidak bersih bisa membatalkan segala amal perbuatan. Al-umuru bi maqashidiha, segala urusan bertitik tolak pada maksud. Niat, dengan kata lain, fondasi yang begitu esensial. Suatu hal yang kadang dinafikan dan diremehkan oleh kebanyakan orang. Ini juga yang menjadi dasar dari tindakan tazkiyatun nafsi.

Hal ini berbeda dengan misalkan teologi (kalam) yang lebih banyak menyentuh permasalahan ketuhanan yang terkadang sangat kompleks dan membingungkan; filsafat membicarakan masalah wujud yang terdapat di dalam semesta sehingga melahirkan ilmu pengetahuan; serta fikih yang berfokus pada tindakan manusia dan tindakan hukum apa yang harus dilakukan dan diputuskan dalam perspektif al-Qur’an dan Sunnah.

Pada masa-masa akhir Abbasiyah, ilmu dan praktek tasawuf ini begitu menjamur di masyarakat. Meski menjamur dan populer di masyarakat, dalam perspektif muslim-modernis awal, seringkali dipahami bahwa tasawuf menjadi biang kemunduran dalam peradaban Islam. Mengapa demikian?

Seperti yang dikatakan pada bagian sebelumnya, sebelum terbentuk apa yang disebut tasawuf, praktek zuhud merupakan sarana tindak untuk membersihkan diri agar seorang muslim senantiasa dapat mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah, dan tidak mabuk dengan kecintaan duniawi. Akan tetapi, bila kita merujuk pada teori sosiologi agama Weber, terdapat pergeseran yang semakin hari semakin kentara antara praktek zuhud tersebut dibandingkan praktek belakangan.

Pada masa-masa perkembangan awal mencari bentuk tasawuf, praktek zuhud itu sendiri lebih mendekati sikap asketisme, yaitu tidak mabuk dengan kecintaan pada kekayaan duniawi, tetapi tidak meninggalkan kehidupan sehari-hari di dalam dimensi kemasyarakatan. Malahan, sikap zuhud ini ditularkan dalam perilaku-perilaku keseharian sehingga menjadi contoh bagi masyarakat.

Sikap asketisme Weber ini memiliki kesamaan dengan sikap zuhud ini berdasarkan konsep ‘panggilan Tuhan’. Meski begitu, perbedaan terletak pada sikap predeterminisme yang terlampau kaku, sehingga membentuk sikap puritanisme. Namun, perlu untuk diperhatikan bahwa sikap puritanisme ini justru muncul pada masa-masa pasca-keterpurukan Islam kala era kolonialisme Barat yang juga puritan. Agaknya sikap puritan ini melahirkan sikap imperialistik, alias menaklukkan.

Titik temu itu berdasarkan pada panggilan Tuhan di dalam nurani seseorang. Kala nurani seseorang bersih dan senantiasa membersihkan (mensucikan) diri, maka kepekaan hatinya terhadap realitas sosial akan semakin peka. Dari sinilah ada dua pilihan: bertindak untuk mengubah dan menularkan kebaikan yang sesuai dengan panggilan hatinya yang bersih, atau menjauhkan diri dan senantiasa membersihkan dari hidup duniawi layaknya hanya sekadar ‘bangkai yang dimakan hanya sekadarnya saja’.

Sikap itulah yang melahirkan sikap zuhud terbelah menjadi dua sikap: asketisme atau mistisisme. Asketisme telah melahirkan gerakan oposisi moral sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya. Abu Dzar al-Ghifari dan Hasan al-Bashri adalah dua contoh yang telah diambil. Bahkan kebebasan manusia menjadi argumentasi terhadap dingin dan kerasnya rezim terhadap teologi predeterminisme yang melegitimasi kekuasaan Umayyah.

Akan tetapi, searah dengan perkembangan waktu, tasawuf mengalami benturan dan aspirasi alternatif dalam menjawab kejenuhan zamannya. Pertama, perdebatan teologis, filsafat dan fikih yang begitu menjemukan dan kering akan makna memaksa mereka mencari muara sumber air yang menyegarkan di tengah perdebatan keislaman yang terasa kering.

Fikih menyentuh pada amal (praktek) perbuatan manusia. Seringkali mendebatkan sesuatu hal furu’iyah bisa mencampuri pada kepentingan politik tertentu. Juga berbicara teologi dan filsafat, perdebatan mengenai akal, perbuatan manusia teoretis. Pada akhirnya, perdebatan yang menelusup pada kepentingan politik tertentu, membuat perdebatan keilmuan menjadi ajang pamer argumentasi dan menang-menangan.

Pensucian diri (tazkiyatun nafsi) menjadi oase yang menggairahkan di tengah keringnya perdebatan tersebut. Membersihkan diri, mencari ketenangan batin, mensucikan hati adalah idaman setiap manusia di tengah keriuhan manusia yang asyik-masyuk pada praktek zahir. Ambil contoh terhadap Rabi’ah al-‘Adawiyah dan Abu Yazid al-Bustomi yang mengekspresikan kehausan akan cinta kepada Allah. Bagi Rabi’ah misalkan, hilangnya kecintaan Tuhan kepada umatNya adalah puncak bencana paling pedih. Bahkan, al-Bustami lebih jauh bahwa kecintaan kepada Tuhan yang begitu lekat membawanya ‘menyatu’ dengan Allah (al-ittihad).

Meski begitu, ekspresi tasawuf pada masa-masa belakangan justru lebih bersifat imajinatif dan seringkali banyak disalahpahami. Hal ini dikarenakan ajaran-ajaran tasawuf yang bersifat subjektif. Hal ini berada titik balik pasca-tasawuf ala Imam Ghazali sebagai puncak dari pemikiran Islam yang memadukan antara fikih, teologi, filsafat dan tasawuf, berdasarkan pergumulan ilmu dan pengalaman berpetualangnya mencari hakekat kedamaian dan kepastian akan iman kepada Tuhan yang selama ini terasa begitu kering.

Namun, belakangan, tasawuf justru menjadi keilmuan yang seringkali disalahkaprahkan. Perpaduan tasawuf dengan filsafat misalkan, telah menghasilkan rumusan kalimat sufi yang terkadang tak bisa dicerna secara mentah. Filsafat, bertemu dengan pengalaman batin yang subjektif telah melahirkan perspektif yang terkadang membuat orang bingung. Hal ini membuat kalangan fikih mencercanya sebagai hal yang berpotensi ‘menyesatkan’.

Hal tersebut bisa dilacak dari eksekusi al-Hallaj dan Suhrawardi yang dieksekusi mati secara mengenaskan karena konsep wahdatul wujud­-nya. Sebenarnya, hal tersebut tidak asing seperti rumusan ittihad al-Bustami. Tetapi, agaknya rumusan al-Hallaj yang terlampau vulgar menyebabkan dua hal: kesalahpahaman ruang publik yang sebenarnya tak layak disampaikan di sana, maupun keterancaman gerakan politik dibaliknya di mana gerakan tasawuf seringkali menarik massa yang digerakkan dan berpotensi menggoyang kekuasaan mapan.

Hal ini juga dilanjutkan dengan rumusan tasawuf ala Muhyiddin Ibnu ‘Arabi di Andalus, yang memiliki keberagaman khazanah intelektual Islam maupun interaksi antaragama yang begitu kompleks.

Pergeseran dari asketisme kepada mistisisme yang lebih bersifat subjektif dan tidak menyentuh kepentingan publik, pada akhirnya menjamur pada masa-masa redupnya peradaban Islam.

***

Wajar bila tasawuf pada akhirnya banyak disalahpahami, karena rumusan tasawuf yang berkawin-mawin dengan tradisi filsafat telah melahirkan gagasan dan konsep yang terkadang sulit untuk dibantah. Hal itulah yang diwaspadai kalangan fikih dan ahli hadits yang berpotensi penyelewengan amal umat muslim. Intinya, menyeleweng dari ajaran Islam berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah.

Tapi toh, seperti yang telah disinggung sebelumnya, tasawuf menjadi magnet bagi mayoritas umat Isla, khususnya kepada para mualaf. Magnet itu terletak pada penyentuhan batin yang begitu menyejukkan dibanding pendekatan fikih yang berdasarkan perbuatan yang sifatnya memaksa. Tentu, fikih dilihat dari perspektif hukum, bersifat memaksa. Berbeda dengan tasawuf, mereka menyentuh apa yang disebut ‘rasa’, berkaitan dengan lubuk terdalam dan esensi hidup manusia.

Sayangnya, tahapan penyebaran Islam yang luas melalui tasawuf ini seringkali berjalan lambat, bahkan terputus masa kolonialisme. Pada satu sisi, penurunan kualitas peradaban Islam pasca-penyerangan Baghdad oleh bangsa Mongol telah melucuti kemampuan perkembangan peradaban Islam. Teologi dan Filsafat seakan semakin tidak berdaya setelah masa Muktazilah yang ‘memaksa-bebas’.

Tasawuf, dengan kepastian batin menenangkan, lebih dipilih dibanding perdebatan menjemukan. Subjektifitas para guru mursyid yang terkadang terlampau mendikte (bahkan ada yang mengatakan seorang guru dengan murid hubungannya seakans seperti seorang yang hidup memandikan mayat!). Di sisi lain rumor tutupnya pintu ijtihad dalam persektif fikih menjadi bahan terbaik bagi redupnya peradaban Islam.

Akibatnya, taklid buta menjamah umat Islam. Tasawuf, meski pada akhirnya melahirkan gerakan revolusioner yang lahir di berbagai tempat koloni Barat, tetapi mengarah pada gerakan ekstrem yang serba kaku. Ekstremisme, bisa jadi, terjadi dari perkawinan gerakan moral yang terlampau kaku dengan sikap xenophobia dan anti-western.

Di sisi yang lain, umat Islam terjebak pada apa yang disebut sebagai gejala ‘takhayul-bid’ah-khurafat’. Perkawinan tasawuf dengan kebudayaan setempat menyebarnya Islam pertama kali menghasilkan sinkretisme keagamaan, terkadang bersifat kreatif. Tasawuf menjadi sarana bagi Islam menjadi ‘agama massa’ yang massif. Tetapi, gerakan yang evolutif itu justru lebih banyak membentuk ‘agama baru’, mungkin lebih aman sebagai varian baru. Terkadang menyimpang dari ajaran Islam.

Maka, berbicara tasawuf tidak semudah seperti yang bisa kita harapkan. Namun, perlu untuk memberi kesimpulan bahwa pendekatan hati dan ‘rasa’ merupakan titik esensial bagi persebaran dakwah Islam di berbagai tempat di luar wilayah Timur Tengah. Akan tetapi, persinggungan dengan budaya setempat telah menyentuh kekaguman masyarakat setempat terhadap ajaran Islam yang bersifat egaliter dan membebaskan. Itulah yang terjadi di Nusantara ini, melalui para Wali Songo.

Belajar tasawuf dengan kata lain, siap untuk senantiasa membersihkan hati, pribadi dan ‘nafsi’ (diri). Siapa yang bersih hati, ia akan mencerahkan akal melihat dalam berbagai perspektif. Agaknya, landasan membersihkan hati (tazkiyatun nafsi) adalah esensial bagi seorang muhsinin.

Wajar, bila orang yang mendalami tasawuf, mereka senantiasa menyejukkan hati dan berbuat sesuai dengan keadaan sekitarnya. Itulah yang disebut amal shalih (kerja yang pantas sesuai dengan situasi, kondisi, dan kebutuhan sosial). Itulah yang kita butuhkan saat ini yang begitu kering dan pelik akan perdebatan agama yang seringkali disusupi kepentingan politik tertentu.

*Direktur Bidang Pelatihan dan Pendidikan LAPMI-HMI Cabang Bogor (2017-2018)

15Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.