Sen. Jan 13th, 2020

Sentrifugal Media

Menebar Makna, Menyemai Peradaban

Syariat, Tarekat dan Hakikat

2 min read
"Syariat laksana perahu atau bahtera dan tarekat laksana lautan. Kemudian hakikat laksana intan yang berharga." Dalam Tasawuf, tiga kunci (Syariat, Tarekat, Hakikat) wajib untuk dipahami. #Opini

sumber: suhupendidikan.com

Penulis: Rohmatullah Adny Asymuni*

Apa itu syariat? Menurut Iman Ash-Shawi, syariat adalah berisi hukum-hukum Allah yang dibebankan pada kita yang sudah mukallaf, berupa kewajiban-kewajiban seperti sholat, zakat dan lainnya; kesunahan-kesunahan, muharramat (hukum-hukum haram), hukum-hukum makruh, dan hukum-hukum jaiz. Pendek kata, syariat adalah melakukan apa yang diperintahkan serta menjauhi apa yang dilarang.

Thariqah (Indonesia biasa menyebut tarekat) hampir sama dengan syariat, namun ada penekanan berupa melepas dengan meninggalkan apa yang dihukumi mubah dengan mengambil hukum secara hati-hati seperti wara’, riyadlah dengan cara qiyamul lail (melek malem beribadah), berpuasa sunnah, tidak banyak berbicara.

Manakala syariat dan tarekat sudah dijalani, maka masuk pada hakikat, yaitu paham hakikat sesuatu, seperti penyaksian (syuhud) pada asma’ dan sifat-sifat Allah, penyaksian pada Dzat Allah, penyaksian pada asrar (rahasia-rahasia Al-Qur’an), asrarul man’i, asrarul jawaz, dan ‘ulumi al-ghaibiyah (ilmu-ilmu yang tidak dapat dicerna panca indra  atau ilmu ghaib) yang tidak diperoleh dari seorang guru. Namun ilmu ini langsung diperoleh/dipahami dari Allah Swt, alias ilmu ladunni. Untuk hal ini, Allah berfirman sebagai berikut.

إن تتقوا الله يجعل لكم فرقانا اي فهما في قلوبكم تأخذونه

عن ربكم من غير معلم

“Bilamana engkau bertakwa pada Allah, maka Allah jadikan (memberikan) pada engkau sebuah pemahaman dalam hatimu yang bersumber dari Allah.” (Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Muraqi al-Ubudiyah, hlm. 4).

Imam Malik رضي الله عنه berkata: من عمل بما علم ورثه الله علم ما لم يعلم

“Barangsiapa yang mengamalkan ilmu (sesuatu yang diketahuinya), Allah memberikan (mewariskan) ilmu yang belum diketahuinya.”

Poin syariat ada pada kata “علم” (ilmu). Poin tarekat ada pada kata “عمل” (mengamalkan). Dan poin hakikat terletak pada kata “ورثه الله علم ما لم يعلم” (Allah mewariskan/memberikan ilmu yang belum/tidak diketahuinya oleh yang mengamalkan ilmu).

Disinilah bahwa Syariat, Tarekat, dan Hakikat merupakan kesatuan paket. Dimana seseorang tidak akan sampai pada hakikat manakala dia belum melakukan syariat dan thariqah. Maulana Syaikh Zainuddin dalam Hidayat al-Adzkia menjelaskan seperti berikut:

فشريعة كسفينة وطريقة # كالبحر ثم حقيقة در غلا

Syariat laksana perahu/bahtera dan tarekat # laksana lautan kemudian hakikat laksana intan yang berharga.

Seseorang tidak akan bisa mengambil intan (hakikat) yang sangat berharga sampai kapan pun, jika dia tidak dapat mengarungi lautan tarekat. Dan pastinya seseorang tidak akan bisa berlayar ke tepi lautan tarekat jika tidak menaiki perahu syariat.

Tidak sedikit orang sibuk dengan mempersoalkan halam-haram syariat, menuduh sesat-kafir dan bidah pada orang lain hanya karena berbeda pendapat dalam urusan furu’iyah.

Mereka yang masih dalam taraf suka menyalahkan sejatinya dia belum sampai pada lautan tarekat yang berhati-hati dalam bersyariat. Ia tidak sibuk mengkafir-kafirkan umat Islam, karena dirinya telah disibukkan dengan menyucikan dirinya dari sifat-sifat yang kotor. Ia fokus ‘menghiasi’ dirinya dengan budi yang luhur dan meng-ihsan seluruh tindak lakunya.

Maka pertanyaan perlu untuk dijadikan renungan: Bagaimana mungkin akan merasakan nikmatnya hakikat manakala nikmatnya syariat dan tarekat belum dicicipinya?

Semoga kita bisa menyatukan syariat, tarekat (thariqah) dan hakikat dalam kehidupan kita sehingga menjadi insan kamil dan menjadi ibadillah ash-sholihin.

Wallahu a’lam bish-shawwab

*Penulis merupakan kader HMI Cabang Bogor Komisariat STEI Tazkia. Pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Umum Pembinaan Anggota HMI Cabang Bogor periode 2015-2016. Kini menjabat sebagai Redaktur Buletin Al-Ummah PCNU Bangkalan dan Redaktur website hmass.co. Kini berprofesi sebagai pengajar di Pesantren An-Nahdhlah Depok.

43Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.