Kam. Feb 20th, 2020

Sentrifugal Media

Menebar Makna, Menyemai Peradaban

Sastra Perlawanan

2 min read
Sastra sebagai medium perlawanan alternatif pernah juga disampaikan oleh Seno, ketika jurnalisme dibungkam maka sastra harus bicara. Di tengah rezim otoriter yang mengendalikan semua kebenaran, sastra tampil sebagai lawan tanding yang sepadan.

Penulis: Joni Iskandar*

Dalam satu waktu, Aku berkesempatan ngobrol panjang dengan Yudi Latif. Kami mambahas sastra dan keberaksaraan. Setelah kudengar penuturannya, aku sampai pada kesimpulan, jika Yudi Latif termasuk sosok yang mempunyai akar pengalaman kuat pada sastra. Deretan sejarah hidup yang dia jalani banyak bersentuhan dengan sastra.

“Rezim otoriter cenderung memonopoli semua tafsir kebijakan. Kondisi seperti ini selalu menghadirkan keliaran ekspresi artistik sebagai wahana tanding untuk mengakses tafsir alternatif,” tutur Yudi dengan diksi yang mengigit.

Betul. Ketika semua institusi pengetahuan yang harusnya mampu membendung kebijakan pemerintah yang egois, sastra tampil dengan gugatan liar dan lentur. Berkelit dibalik tameng fiksi dan imajinasi. Apa yang bisa dipermasalahkan dari sindiran yang tak kelihatan secara dzohir. Seperti makhluk gaib yang menebar serangan lewat psikologis. Terasa namun tak kelihatan.

Begitulah kerja sastra, ia mempengaruhi audiens dengan serangkaian rekayasa. Pram memberikan kesadaran tentang ketidakadilan lewat tokoh fiktif yang tampak asli. Persis dikatakan oleh Darusman, sastra memiliki dua nyawa untuk terus ada, yakni fakta dan imajinasi. W.S Rendra memprovokasi dengan sajak sajak perlawanan yang menggelora. Gaung kalimat kiasan yang menusuk langsung ke jantung kekuasaan.

Pandidikan teater sebagai seni yang juga lahir dari rahim sastra, mengharuskan pemeran mendalami beragam karakter manusia, melihat dengan berbagai macam sudut pandang, membuat kita peka terhadap kondisi sosial. Banyak tokoh tokoh besar belajar tentang kemanusiaan lewat pendalaman seni peran.

Sastra sebagai medium perlawanan alternatif pernah juga disampaikan oleh Seno, ketika jurnalisme dibungkam maka sastra harus bicara. Di tengah rezim otoriter yang mengendalikan semua kebenaran, sastra tampil sebagai lawan tanding yang sepadan.

Fiksi yang membayangi kenyataan akan merefleksikan kenyataan itu sendiri, berakhir pada kesadaran pembaca terhadap konteks yang sebetulnya berkelat kelindan dalam kesehariannya.

*Penulis merupakan Ketua Umum HMI Cabang Bogor periode 2017-2018

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.