Sen. Feb 17th, 2020

Sentrifugal Media

Menebar Makna, Menyemai Peradaban

Membedah Takdir: Perspektif Ahlussunnah Waljamaah

6 min read
Manusia yang sudah mukallaf wajib mengimani dan meyakini bahwa seluruh perbuatan, perkataan, gerak-gerik baik atau buruk terjadi dengan iradah (kehendak) Allah, takdir Allah dan ilmu Allah Swt. Setiap kebaikan yang terjadi pada diri manusia berarti dengan ridho Allah. Dan keburukan yang dilakukan manusia tidak diridhoi Allah. #Opini

Oleh: Rohmatullah Adny Asymuni

وماشئت كان وإن لم أشاء # وماشئت إن لم تشاء لم يكن

Apa yang engkau (Allah) kehendaki pasti terjadi, meski aku tidak berkehendak # dan apa yang aku kehendaki, jika Engkau tidak menghendaki tidak akan terjadi.“- Imam Muhammad bin Idris as-Syafii.

Sebagai orang mukallaf, wajib hukumnya meyakini dan beriman bahwa takdir (baik & buruk) datangnya dari Allah Swt. Meyakini bahwa seluruh perbuatan manusia adalah atas kehendak (iradah) & takdir Allah subhanahu wata’ala. Beriman pada takdir baik dan buruk datangnya dari Allah merupakan rukun iman yang ke enam yang wajib diimani bagi kita, orang mukmin-mukallaf. Madzhab Ahlul haq (Ahlussunnah waljamaah) menetapkan adanya takdir. (Lihat Syarah al-Arbain an-Nawawi hlm 16, karya Imam Nawawi).

Takdir menurut Asya’irah (Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan pengikutnya) adalah

إيجاده تعالى الأشياء على مقدار مخصوص  في ذواتها وأحوالها بطبق ماسبق به العلم

Allah mewujudkan sesuatu esensi dan kondisinya atas ketentuan (takdir) tertentu yang selaras dengan ilmu Allah yang mendahuluinya (lihat Is’ad al-Rafiq hlm 45, Syaikh Muhammad bin Salim bin Said as-Syafii). Artinya bahwa Allah Swt telah menentukan (menakdirkan) sesuatu apapun sejak jaman azali (qidami) dan sesuai ilmu Allah, dan sesuatu tersebut akan terjadi pada waktu tertentu menurut pengetahuan (ilmu Allah), terjadi pada tempat tertentu, dan kesemuanya itu terjadi tas apa yang telah Allah takdirkan. (Lihat Syarah al-Arbain an-Nawawi hlm 16, karya Imam Nawawi). Jadi, kita wajib menyakini dan mengimani bahwa apapun yang terjadi pada manusia, perbuatan manusia adalah atas takdir/ketentuan Allah Swt. Hal ini senada dengan firman Allah dalam surat Ash-Shoffat   ayat ke 96  

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Dan Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan (Ash-Shoffat: 96).

Namun, meski setiap perbuatan manusia adalah Allah yang menciptakan bersamaan dengan takdir dan kehendaknya, bukan berarti manusia majbur (tidak dapat berbuat apa-apa, alias bagai boneka yang tak dapat berikhtiar, memilih untuk berbuat) di dalam seluruh perbuatannya. Mengapa demikian?. Karena manusia diberi iradah (keinginan/kehendak oleh Allah) yang bersifat juziyah yang dapat menggunakannya untuk memilih melakukan kebaikan atau keburukan.

Sehingga dengan ia menggunakan iradahnya pada kebaikan, berarti ia telah menginginkan kebaikan tersebut (sehingga akibat yang dihasilkan dari perbuatan baik tersebut ia diberi pahala oleh Allah Swt). Begitu juga sebaliknya, manakala ia menggunakan iradah tersebut pada perbuatan buruk, berarti ia telah memilih keburukan, sehingga konsekwensinya dari perbuatan buruk tersebut ia disiksa oleh Allah Swt. 

Bukti bahwa manusia dalam seluruh perbuatannya tidak serma-merta ia tidak dapat berikhtiar, dalam artian ia tidak memiliki kemampun untuk memilih perbuatan tersebut. sederhanya adalah bahwa manusia dalam seluruh perbuatannya tidak serta merta ia tidak dapat berikhtiar (memilih) atau majbur (bagai boneka). Satu contoh, geraknya tangan ketika menulis, apa gerak tersebut tidak ada ikhtiar (pilihan) dari manusia itu sendiri?

Justru geraknya tangan ketika menulis adalah bukti bahwa gerak itu dipilih manusia. Dengan menulis, otomatis manusia ingin menggerakkan tangannya dengan wasilah menulis. Inilah yang disebut dengan takdir yang bersifat ikhtiyariyyah. Artinya, manusia dapat memilih untuk menggerakkan tangannya sendiri. Meski demikian, geraknya tangan tersebut, tetap yang menciptakan dan yang mewujudkannya adalah Allah yang maha kuasa.  

Ada juga perbuatan manusia yang bukan atas kehendaknya sendiri, bahkan perbuatan tersebut diluar keinginan, kehendak dan kemampuan manusia itu sendiri, seperti geraknya tangan karena gemetar. Apakah gerak tersebut atas dasar pilihan dan kehendak manusia itu sendiri?. Tentunya tidak. Sama sepertinya, kita manusia terjatuh dan kepleset di lantai, misalkan. Apakah hal demikian atas kehedaknya ia sendiri?. Pastinya bukan. Inilah yang disebut dengan takdir yang bersifat ith-thirari. (Lihat al-Jawahi al-Kalamiyah hlm, 38-39, karya Syaikh Thahir bin Sholeh al-Jazairi).

Macam-macam Takdir

Imam Nawawi membagi takdir ada empat macam: 1. At-taqdi fil ilmi. 2. Takdir fi Lauhil mahfudz. 3. Takdir fi Rahim. 4. Suwqu takdir ilal Mawaqiit. Berikut akan dijelaskan dengan perinci:

Pertama, adalah takdir Allah sejak jaman azali dan dalam pengetahuan (ilmu) Allah Swt. Oleh sebab itu dikatakan oleh ulama as-sa’adah qablal wiladah, yang artinya keberuntungan dan keselamatan seseorang sebelum ia terlahir. Artinya, manakala Allah telah menakdirkan seseorang selamat, sejak sebelum ia dilahirkan sudah Allah takdirkan ia menjadi orang yang selamat. Untuk hal ini Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda:

لايهلك الله الا هالكا

Tidaklah Allah mencelakan sesorang kecuali orang yang celaka. Maksudnya adalah orang yang telah ditakdirkan (ditulis) celaka sejak dalam ilmunya Allah.

Kedua, takdir fi lauhil mahfudz, takdir yang Allah catat di dalam Lauh al-Mahfudz. Untuk takdir ini, menurut Imam Nawawi bisa saja berubah, sesuai dengan firman Allah

 يمحو الله ما يشاء ويثبت وعنده أم الكتاب

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh). (Surat Ar-Ra’d 39). Sayyidina Umar bin al-Khatab berdoa:

اللهم إن كنت كتبتني شقيا فامحني واكتبني سعيدا

Duhai Allah, jika engkau menakdirkan aku orang yang celaka, hapuskanlah dan takdirkanlah aku menjadi orang yang selamat, beruntung. Berarti takdir ini bisa dihapus atas kehendak dan takdir Allah Swt. Kita sering mendengar, bahwa dengan bersilaturahim dapat memanjangkan umur. Seumpama kita asalnya, tercatat di Lauh al-mahfudz meninggal pada usia 50, tapi karena kita rajin silaturahim dan berbuat baik, Allah perpanjang umur kita.

Ketiga, Takdir fir rahim, yaitu ketentuan dan takdir Allah yang tercatat sejak manusia itu ada dalam rahim (kandungan seorang Ibu). Sebagaimana yang kita ketahui dalam penjelasan hadits dari Sayyidina Abi Abdirrahman Abdillah bin Mas’ud (yang terkenal dengan sebutan Ibnu Mas’ud) bahwa ketika kandungan berumur 120 hari, Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh, dan pada saat itu pula Allah memerintahkan Malaikat mencatat rezeki, ajal/usia, perbuatan dan menjadi orang selamat atau celaka.

Keempat, Suwqu takdir ilal mawaqit, yaitu adanya takdir Allah tentukan hingga pada waktu yang Allah tentukan. Allah menciptakan kebaikan dan keburukan, kemudian Allah tentukan (takdirkan) datangnya kebaikan atau keburukan pada hamba-Nya dalam batas waktu yang telah ditentukan-Nya. Untuk takdiri ini, andaikata ada rasa kasih sayang Allah (al-luthfi) pada hamba-Nya, maka keburukan yang tandinya ingin ditimpakannya Allah palingkan dari hamba tersebut sebelum datangnya keburukan itu. Dalam salah satu hadits Nabi dijelaskan bahwa do’a dan bala’ (musibah) saling serang-menyerang, dan doa dapat menolak terjadinya bala’ (bencana) sebelum bala’ itu turun.

Dalam pandangan kaum Qadariyyah bahwa Allah Swt tidak menakdirkan segala sesuatu sejak jaman azali (qidami) dan tidak didahului oleh ilmunya Allah Swt. Allah mengetahui terjadinya takdir setelah terjadinya sesuatu tersebut. Kaum Qadariyyah ini mengatakan bahwa Allah tidak ikut campur dalam urusan perbuatan manusia. Manusia sendirilah yang kuasa dan mampu menentukan untuk melangkah, memilih dan berbuat sesuai dengan keinginnya sendiri, tanpa terinvensi oleh takdir Allah. Paham ini, jelas bertolak belakang dengan paham Ahlussunnah waljama’ah.

Sebaliknya, kaum Jabbariyah berpandangan bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk berbuat apa-apa, manusia dibelenggu oleh takdir dan ketentuan Allah. Sehingga dengan pendapat Jabbariyah ini seakan-akan ingin mengatakan bahwa tatkala manusia itu melakukan dosa, maka manusia itu tidak bersalah, sebab ia tidak berdaya dan kuat untuk melawan takdir (berupa melakukan dosa tersebut). Pemahaman ini tertolak, sebab sebagaimana dijelaskan diatas, bahwa manusia oleh Allah diberi akal, fikiran dan iradah (kehendak), sehingga dengan iradah tersebut yang bersifat ikhtiyariyah manusia dapat memilih perbuatan baik atau buruk dengan konsekwensi dan balasan dari setiap perbuatannya menurut hukum syariat yang telah Allah tetapkan melalui ajaran Nabi Muhammad Saw. 

Kesimpulannya, manusia yang sudah mukallaf wajib mengimani dan meyakini bahwa seluruh perbuatan, perkataan, gerak-gerik baik atau buruk terjadi dengan iradah (kehendak) Allah, takdir Allah dan ilmu Allah Swt. Setiap kebaikan yang terjadi pada diri manusia berarti dengan ridho Allah. Dan keburukan yang dilakukan manusia tidak diridhoi Allah. Sehingga tugas manusia kepada Allah adalah meridhoi dan menerima apa yang sudah Allah tentukan. Ketika Allah memberi kekayaan, kita bersyukur. Dan ketika Allah mengujinya kita wajib bersabar. Serta mengembalikan apapun yang sudah terjadi dikembalikan pada Allah Swt.

Takdir mubram, takdir yang tidak dapat diubah dan sudah tertutup untuk dirubah. Sedangkan untuk takdir mu’allaq bisa diubah dan dirubah dengan doa, silaturahim dan kebaikan-kebaikan. Namun karena kita tidak tau, apakah yang menimpa diri manusia adalah takdir mubram ataukah mu’allaq, tugas kita hanya menghamba diri dan memohon kepada Allah semoga kita ditakdirkan menjadi orang yang selamat dunia akhirat, aamiin.

*Penulis merupakan kader HMI Cabang Bogor Komisariat STEI Tazkia. Pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Umum Pembinaan Anggota HMI Cabang Bogor periode 2015-2016. Kini menjabat sebagai Redaktur Buletin Al-Ummah PCNU Bangkalandan Redaktur website hmass.co. Kini berprofesi sebagai pengajar di Pesantren An-Nahdhlah Depok.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.