Sab. Feb 15th, 2020

Sentrifugal Media

Menebar Makna, Menyemai Peradaban

Sejarah Penumpasan Negara Islam Indonesia, Ketika Soekarno “Membunuh” Kawan Kosannya

5 min read
Sumber : Repro Hari Terakhir Kartosoewirjo, 81 Foto Eksekusi Imam DI/TII

Penulis : Javier M. Zuhrijadi*

Polemik tentang negara Islam atau khilafah di Indonesia nyatanya bukan merupakan isu yang baru belakangan ini muncul dalam konstelasi politik Indonesia. Faktanya, paham dan gerakan negara Islam telah hadir bahkan hanya empat tahun pasca Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Tepatnya pada 7 Agustus 1949, Negara Islam Indonesia (NII) diproklamasikan di Kabupaten Tasikmalaya oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo alias SMK merupakan tokoh sejarah yang kontroversial. Al-Chaidar dalam bukunya Pengantar Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam mengatakan bahwa SMK lahir pada 7 Januari 1907. Kartosoewirjo adalah seorang pribumi yang mendapat pendidikan berkat politik etis Belanda (1902).

Sejarah Hidup Kartosoewirjo    

Pada umur 8 tahun, SMK mengenyam pendidikan di Inlandsche School der Tweede Klasse (ISTK). Kemudian di umur 12 tahun, ia masuk Europeesche Lagere School (ELS) di Bojonegoro, sekolah untuk orang eropa. Di Bojonegoro, SMK bertemu dengan Notodiharjo, seorang tokoh Muhammadiyah yang mengajarkan nilai-nilai keislaman kepadanya. Ajaran Notodiharjo lah yang pada akhirnya mempengaruhi sikap dan cara berpikir Kartosoewirjo.

Selesai di ELS, Kartosoewirjo melanjutkan pendidikannya di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), sekolah kedokteran kolonial di Surabaya. Di NIAS ia mulai menggeluti dunia pergerakan dengan bergabung dalam Jong Java pada 1923.

Dua tahun pasca SMK bergabung, muncul perpecahan dalam internal Jong Java antara pihak yang memiliki cita-cita keislaman dan pihak yang memiliki paham nasionalis-sekuler. Hingga akhirnya, Kartosoewirjo bersama anggota lainnya yang mengedepankan paham keislaman keluar dari Jong Java dan mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB), sebagai organisasi baru yang mengedepankan nilai-nilai keislaman.

Pada masa ini, Kartosoewirjo bertemu dengan H.O.S Tjokroaminoto dan bergabung dengan Syarikat Islam. Ia pun menjadi murid sekaligus sekretaris pribadinya. Menurut Al Chaidar, selama berguru pada Tjokroaminoto, Kartosoewirjo belajar tentang berbagai hal, diantaranya keislaman, metode organisasi, komunikasi massa, dan membangun kekuatan umat.

Ajaran Tjokroaminoto sangat mempengaruhi pola pikir dan sikap politik Kartosoewirjo. Pada masa ini lah pemikiran ideologis Kartosoewirjo tentang Negara Islam mulai terbentuk. Pada 1927, Kartosoewirjo dikeluarkan dari NIAS karena ia dianggap seorang aktivis politik dan memiliki buku kiri (sosialis dan komunis).

Tiga Sekawan Dalam Kontrakan Tjokro

Ada sebuah kisah menarik, selama Kartosoewirjo di Surabaya dan berguru pada Tjokroaminoto, ia tinggal di sebuah rumah kontrakan milik Tjokroaminoto. Tepatnya di Gang Paneleh VII, di tepi Sungai Kalimas, Surabaya. Rumah tersebut menjadi saksi persahabatan tiga pelaku sejarah Indonesia dengan arah gerakannya masing-masing, yaitu Soekarno, Semaoen, dan Kartosoewirjo.

Ketiganya menjadi murid Tjokroaminoto. Tiga sekawan ini dapat dikatakan bersahabat kental. Ketiganya menonjol sebagai seorang murid, bahkan menjadi murid kesayangan Tjokroaminoto. Namun tak hanya mereka, rumah Tjokroaminoto juga ditinggali oleh beberapa tokoh nasional lainnya seperti Musso, Alimin, dll.

Soekarno, Semaun, dan Kartosoewirjo menjadi tetangga kamar. Ketika Soekarno berlatih orasi malam-malam, Semaun lah yang menilainya. Kartosoewirjo bergabung setelahnya usai membaca Al-Qur’an. Seolah mereka bertiga hidup sebagai kawan kosan sekaligus kawan perjuangan. Trio sekawan ini disebut-sebut sebagai “triple S” murid Tjokroaminoto.

Soekarno berumur 15 tahun ketika ia mulai tinggal di rumah Tjokro. Sejak belia, Soekarno merupakan orator ulung dan pandai berorganisasi. Pun juga Semaun, ia adalah seorang pemuda cerdas nan brilian. Sejak umur 14 tahun ia sudah belajar politik. Semaun sangat tertarik dengan sosialisme dan komunisme. Ia juga pernah bergabung dengan Syarikat Islamnya Tjokroaminoto dan menjadi Ketua SI Cabang Semarang di usia belum genap 20 tahun. Namun pada akhirnya karena perbedaan pandangan ia keluar dan mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tiga sekawan yang fenomenal ini pada akhirnya dikenal sebagai pelaku sejarah Indonesia dengan jalan juangnya masing-masing. Soekarno pada “nasionalisme”nya, Semaun pada “sosialis-komunis”nya, dan Kartosoewirjo pada “islam-agamis”nya. Dan tiga pelaku sejarah ini pernah berguru pada guru yang sama, tidur di atap yang sama. Terlebih, pernah bersahabat sebagai kawan juang.

Kartowoewirjo dan NII

Pasca Jepang takluk pada sekutu karena dibombardirnya Hiroshima dan Nagasaki, Indonesia segera mengambil momentum dengan memproklamasikan kemerdekaannya, yang direpresentasikan oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Secara resmi Indonesia menjadi negara yang berdaulat atas tananhnya sendiri, namun Belanda merasa ada urusan yang belum selesai dengan Indonesia.

Tak perlu menunggu lama, belum genap dua tahun Indonesia merdeka, Belanda melakukan ekspansi militer di daerah Jawa dan Sumatera. Peristiwa ini dikenal dengan nama Agresi Militer 1 yang dimulai pada 21 Juli 1947. Tak hanya itu, pasca itu Belanda juga melancarkan Agresi Militer 2 pada Desember 1948. Diiringi dengan penangkapan Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan beberapa tokoh lainnya.

          Kisaran tahun 1945-1949 juga terdapat beberapa perjanjian diplomatik antara Indonesia dan Belanda. Diantaranya perjanjian linggarjati, perjanjian reville, yang justru makin melemahkan dan memperkecil wilayah kedaulatan Indonesia.

Rangkaian kejadian tersebut makin meyakinkan Kartosoewirjo untuk mendirikan masyarakat ideal dalam naungan Negara Islam Indonesia (NII). Sebab baginya, Indonesia tak akan merdeka seutuhnya jika melakukan tindakan kooperatif dengan lawan. Hingga akhirnya pada Agustus 1949, Kartosoewirjo merasa perlu menerbitkan Maklumat NII No. 7. Maklumat tersebut berisi pernyataan berdirinya NII.

7 Agustus 1949 merupakan peristiwa bersejarah. Setelah melalui pertimbangan yang panjang, Kartosoewirjo memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII) di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kabupaten Tasikmalaya.

Proklamasi tersebut dilengkapi dengan sepuluh penjelasan, salah satunya penegasan bahwa Negara Islam Indonesia mencakup seluruh wilayah Indonesia dan seluruh bangsa Indonesia. Kartosoewirjo juga merumuskan konsep dan system pemerintahan dan susunan Dewan Imamah NII. Dalam susunan tersebut, Kartosoewirjo mengangkat dirinya sebagai Imam atau panglima tertinggi. Tercatat beberapa daerah menyatakan diri menjadi bagian dari NII, diantaranya Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Aceh.

Soekarno dan Vonis Mati Kartosoewirjo

Negara Islam Indonesia dengan organisasinya yang bernama Darul Islam (DI) dan tentaranya yang bernama Tentara Islam Indonesia (TII) dianggap melakukan gerakan separatis oleh pemerintah Soekarno, sahabatnya sendiri. Soekarno secara terpaksa melakukan tindakan tegas dengan mengirim tentara untuk meruntuhkan gerakan sahabatnya itu. Gerilya pemerintah melawan NII pun tak dapat dielakkan.

Pasca berkonfrontasi dengan pemerintah selama lebih dari 13 tahun, NII akhirnya terdesak. Taktik pagar betis Pasukan Siliwangi berhasil mengepungya. Perjuangan Kartosoewirjo kandas ketika tentara menangkapnya setelah melalui pencarian panjang di wilayah Gunung Rakutak, Jawa Barat pada 4 Juni 1962.

Kartosoewirjo akhirnya dijatuhi hukuman mati lewat surat hukuman mati yang ditandatangani sendiri oleh Presiden Soekarno. Dikatakan, sempat terjadi pergolakan hebat dalam batin Soekarno saat harus “membunuh” sahabatnya, kawan seperguruan, dan kawan seperjuangannya sendiri. Karena tentu, tanpa tanda tangan dari Presiden, Kartosoewirjo tak akan ditembak mati.

Hingga proses eksekusi terhadap Kartosoewirjo tertunda selama tiga bulan lamanya. Karena Soekarno senantiasa menyingkirkan berkas vonis tersebut ketika berkas itu berada di mejanya. Dilema ini sempat membuat Soekarno frustasi. Namun, karena ia harus menjalankan tugasnya sebagai kepala negara tanpa harus mencampur-adukkan antara perihal persahabatan dan negara, akhirnya pada September 1962, ia menyematkan tanda tangannya di atas kertas vonis terhadap Kartosoewirjo.

Ketika Mayjen S. Parman membawa surat eksekusi itu, Soekarno tak sanggup menahan air matanya. Ia teringat kenangannya berdiskusi dengan Kartosoewirjo tentang politik, agama, kebangsaan serta hari-hari bersama Kartosoewirjo di medan perang dahulu, ketika memperjuangkan Indonesia bersama.

Kartosoewirjo pun dieksekusi pada 5 September 1962 di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta. Soekarno telah “membunuh” sahabatnya untuk kedua kalinya, dimana sebelumya kawan kontrakannya di rumah Tjokro, yakni Musso, tewas ditangan tentara Indonesia dalam penyergapan pasca terjadinya peristiwa PKI di Madiun tahun 1948. Usai kematian sahabatnya itu, orang yang dijuluki sebagai “penyambung lidah rakyat” itu terus berkontemplasi.

Ia berupaya menyatukan pemikirannya dengan pemikiran Kartosoewirjo dan Semaun-Musso. Tiga pemikiran atau aliran terbesar di masanya, nasionalis-komunis-agamis. Hingga ia pun mengajukan sebuah konsep politik yang bernama Nasakom, akronim dari Nasionalis, Agama, dan Komunisme. Namun nahas, nasib Soekarno sendiri pada akhirnya kandas secara mengenaskan karena tenggelam dalam gelombang konflik pasca peristiwa G30S PKI.

*Penulis merupakan Direktur Utama LAPMI HMI Cabang Bogor

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.